Kamis, 25 Juli 2013

proposal skripsi analisis likuiditas dalam penggunaan modal kerja


D. TINJAUAN TEORITIS

1.   Rasio Likuiditas
a.    Pengertian Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas (liquidity ratio) menurut Fred Weston dalam kasmir (2008:129) merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban (utang) jangka pendek. Artinya apabila perusahaan ditagih, perusahaan akan mampu untuk memenuhi utang tersebut terutama utang yang sudah jatuh tempo.
Dengan kata lain, rasio likuiditas  berfungsi untuk menunjukan atau mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya yang sudah jatuh tempo, baik kewajiban kepada pihak luar perusahaan maupun did dalam perusahaan.
Rasio likuiditas atau sering juga disebut dengan nama rasio modal kerja merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa likuidnya suatu perusahaan. Caranya adalah dengan membandingkan komponen yang ada di neraca, yaitu total aktiva lancar dengan total pasiva lancar (utang jangka pendek). Penilaian dapat dilakukan untuk beberapa periode sehingga terlihat perkembangan likuiditas perusahaan dari waktu ke waktu.
Terdapat 2 (dua) hasil penilaian terhadap pengukuran rasio likuiditas, yaitu apabila perusahaan mampu memenuhi kewajibannya dikatakan perusahaan tersebut dalam keadaan likuid, sedangkan apabila perusahaan tidak dapat memenuhi kewajiban tersebut dikatakan perusahaan dalam keadaan ilikuid.

b.      Tujuan Dan Manfaat Rasio Likuiditas
Dalam prakteknya terdapat banyak manfaat dan tujuan analisis rasio likuiditas bagi perusahaan, baik bagi pihak pemilik perusahaan, manajemen perusahaan, dan pihak yang memiliki hubungan dengan perusahaan seperti kreditor dan distributor atau supplier.
Tujuan dan manfaat yang dapat dipetik dari rasio likuiditas menurut Kasmir (2008:132) adalah sebagai berikut :
1.    Untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban atau utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih
2.    Untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka pendek dengan aktiva lancar secara keseluruhan
3.    Untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka pendek dengan aktiva lancar tanpa memperhitungkan sediaan atu piutang
4.    Untuk mengukur atau membandingkan antara jumlah sediaan yang ada dengan modal kerja perusahaan
5.    Untuk mengukur seberapa besar uang kas yang tersedia untuk membayar utang
6.    Sebagai alat perencanaan ke depan, terutama yang berkaitan dengan perencanaan kas dan utang
7.    Untuk melihat kondisi dan posisi likuiditas perusahaan dari waktu ke waktu dengan membandingkannya untuk beberapa periode
8.    Untuk melihat kelemahan yang dimiliki perusahaan, dari masing-masing komponen yang ada did aktiva lancar dan utang lancar
9.    Menjadi alat pemicu bagi pihak manajemen untuk memperbaiki kinerjanya dengan melihat rasio likuiditas yang ada pada saat ini.

c.       Jenis-jenis Rasio Likuiditas
Menurut Kasmir (2008:134) jenis-jenis rasio likuiditas yang dapat digunakan perusahaan untuk mengukur kemampuan, yaitu :
1.    Rasio Lancar (Current ratio)
2.    Rasio sangat lancar (quick ratio atau acid test ratio)
3.    Rasio kas (cash ratio)
4.    Rasio perputaran kas
5.    Inventory to net working capital.


1. Rasio Lancar (current Ratio)
Rasio lancar merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek atau utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan. Rasio lancar dapat juga dikatakan sebagai bentuk untuk mengukur tingkat keamanan (margin of safety) suatu perusahaan. Penghitungan rasio lancar dilakukan dengan cara membandingkan antara total aktiva lancar dengan total utang lancar (Kasmir, 2008:134).
Dari hasil pengukuran rasio, apabila rasio lancar rendah dapat dikatakan bahwa perusahaan kurang modal untuk membayar utang. Namun, apabila hasil pengukuran rasio tinggi belum tentu kondisi perusahaan sedang baik. Hal ini terjadi karena kas tidak digunakan sebaik mungkin.
2. Rasio Cepat (quick ratio)
Merupakan rasio yang menunjukan kemampuan perusahaan dalam memenuhi atau membayar kewajiban atau utang lancar (utang jangka pendek) dengan aktiva lancar tanpa memperhitungkan nilai persediaan (inventory). Hal ini dilakukan karena persediaan dianggap memerlukan waktu relatif lebih lama untuk diuangkan, apabila perusahaan membutuhkan dana cepat untuk membayar kewajibannya dibandingkan dengan aktiva lancar lainnya.
3. Rasio kas ( Cash Ratio)
Rasio kas atau cash ratio merupakan alat yang digunakan untuk mengukur seberapa besar kas yang tersedia untuk membayar utang. Ketersediaan uang kas dapat ditunjukan dari tersedianya dana kas atau yang setara dengan kas seperti rekening giro atau tabungan did bank (yang dapat ditarik setiap saat). Dapat dikatakan rasio ini menunjukkan kemampuan sesungguhnya bagi perusahaan untuk membayar utang-utang jangka pendeknya.


4. Rasio Perputaran Kas
Menurut James O. Gill dalam Kasmir (2008:140) rasio perputaran kas (cash turn over) berfungsi untuk mengukur tingkat kecukupan modal kerja perusahaan yang dibutuhkan untuk membayar tagihan dan membiayai penjualan. Artinya rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat ketersediaan kas untuk membayar tagihan (utang) dan biaya- biaya yang berkaitan dengan penjualan.
Untuk mencari modal kerja,caranya adalah mengurang aktiva lancar dengan utang lancar. Modal kerja dalam pengertian ini dapat dikatakan sebagai modal kerja bersih yang dimiliki perusahaan. Sementara itu, modal kerja kotor atau modal kerja saja merupakan jumlah dari aktiva lancar.
Hasil perhitungan rasio perputaran kas dapat diartikan sebagai berikut :
a)    Apabila rasio perputaran kas tinggi, berarti ketidakkemampuan perusahaan dalam membayar tagihannya
b)   Sebaliknya apabila rasio perputaran kas rendah, berarti kas yang tertanam pada aktiva yang sulit dicairkan dalam waktu singkat  sehingga perusahaan harus bekerja keras dengan kas yang lebih sedikit.
5. Inventory to Net Working Capital
 Inventory to networking capital inventory merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur atau membandingkan antara jumlah persediaan yang ada dengan modal kerja perusahaan. Modal kerja tersebut merupakan pengurangan antara aktiva lancar dengan utang lancar.





2.   Modal Kerja
Modal kerja sangat penting bagi perusahaan dalam menentukan tingkat likuiditas perusahaan. Modal kerja dapat terlihat dari bagaimana perusahaan tersebut menjaga keseimbangan jumlah aktiva lancar dan jumlah hutang lancar agar dapat dipergunakan untuk menunjang operasi perusahaan. Sepanjang keseimbangan tersebut tercapai, maka modal kerja perusahaan tersebut dapat dikatakan baik dalam menentukan tingkat likuiditas perusahaan. Hal ini berlaku lebih penting bagi perusahaan yang sedang melakukan ekspansi dalam bisnisnya karena manajemen modal kerja yang baik akan menghasilkan laba yang tinggi.

a.    Pengertian Modal Kerja
Dalam dunia usaha, peningkatan kegiatan usaha selalu menghadapi masalah-masalah pelik. Salah satu masalah utama yang dihadapi oleh pimpinan atau pemilik perusahaan ialah menyediakan modal kerja yang diperlukan untuk kegiatan - kegiatan perusahaan.
Menurut Sawir (2005:129) modal kerja adalah keseluruhan aktiva lancar yang dimiliki perusahaan, atau dapat pula dimaksudkan sebagai dana yang harus tersedia untuk membiayai kegiatan operasi perusahaan sehari-hari.
Menurut J. Weston dan Eugene F. Brigham yang dikutip oleh Sawir (2005:129) Modal kerja adalah investasi perusahaan di dalam aktiva jangka pendek seperti kas, sekuritas (surat-surat berharga), piutang dagang, dan persediaan.
Untuk keperluan analisis, pengertian modal kerja tersebut masih terlalu umum, sehingga perlu dijabarkan konsep-konsep modal kerja. Menurut Sawir (2005:130-131) berkaitan dengan pengertian modal kerja ini dapat dikemukakan beberapa konsep yaitu :
1.    Konsep kuantitatif
Konsep ini berdasarkan pada kuantitas dari dana yang tertanam dalam unsur-unsur aktiva lancar dimana aktiva ini merupakan aktiva yang sekali berputar kembali dalam bentuk semula atau aktiva dimana dana yang tertanam did dalamnya akan dapat bebas lagi dalam waktu yang pendek. Dengan demikian modal kerja menurut konsep ini adalah keseluruhan dari jumlah aktiva lancar. Modal kerja dalam pengertian ini sering disebut modal kerja bruto (Gross Working Capital).
2.    Konsep kualitatif
Modal kerja menurut konsep ini adalah sebagian dari aktiva lancar yang benar-benar dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahaan tanpa mengganggu likuiditasnya, yaitu yang merupakan kelebihan aktiva lancar di atas utang lancarnya. Modal kerja dalam pengertian ini sering disebut modal kerja bersih (Net Working Capital).
3.    Konsep fungsional
Konsep ini didasarkan pada fungsi dari dana dalam menghasilkan pendapatan. Setiap dana yang digunakan dalam suatu periode akuntansi tertentu yang seluruhnya langsung menghasilkan pendapatan bagi periode tersebut (current income) dan ada sebagian dana lain yang juga digunakan selama periode tersebut tetapi tidak seluruhnya digunakan untuk menghasilkan pendapatan bagi periode tersebut. Sebagian dari dana itu dimaksudkan untuk menghasilkan pendapatan untuk periode-periode berikutnya (future income).

b.   Jenis – jenis Modal Kerja
Kebutuhan modal kerja dari waktu ke waktu dalam satu periode belum tentu sama, hal ini disebabkan oleh berubah-ubahnya proyeksi volume produksi yang akan dihasilkan oleh perusahaan. Perubahan itu sendiri kemungkinan disebabkan adanya permintaan yang tidak sama dari waktu ke waktu, seperti adanya permintaan disebabkan musiman. Oleh karena itu kebutuhan modal kerja juga bisa mengalami perubahan.
Menurut Taylor yang dikutip oleh Sawir (2005:132) jenis - jenis modal kerja dapat digolongkan dalam :

1.    Modal kerja permanen
Yaitu modal kerja yang harus tetap ada pada perusahaan untuk dapat menjalankan fungsinya, atau dengan kata lain modal kerja secara terus menerus diperlukan untuk kelancaran usaha. Modal kerja permanen dapat dibedakan lagi dalam :
a)    Modal kerja primer yaitu jumlah modal kerja minimum yang harus ada pada  perusahaan untuk menjamin kontinuitas usaha.
b)   Modal kerja normal yaitu jumlah modal kerja yang diperlukan untuk menyelenggarakan luas produksi yang normal dalam artian yang dinamis.
2.    Modal kerja variabel
Yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah - ubah sesuai dengan perubahan keadaan. Modal kerja ini dibedakan antara lain:
a)    Modal kerja musiman yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah -ubah disebabkan karena fluktuasi musim.
b)   Modal kerja siklis yaitu modal kerja yang  jumlahnya berubah - ubah disebabkan karena fluktuasi konjungtur.
c)    Modal kerja darurat yaitu modal kerja yang besarnya berubah-ubah karena keadaan darurat yang tidak diketahui sebelumnya.

c.    Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kebutuhan Modal Kerja
Kebutuhan perusahaan akan modal tergantung pada faktor - faktor sebagai berikut (Tunggal, 1995:96-101) :
1. Sifat atau jenis perusahaan
Kebutuhan modal kerja tergantung pada jenis dan sifat dari usaha yang dijalankan perusahaan.
2. Waktu yang diperlukan untuk memproduksi dan memperoleh barang yang akan dijual serta harga persatuan dari barang tersebut.
3. Cara-cara atau syarat-syarat pembelian dan penjualan 
Kebutuhan modal kerja perusahaan dipengaruhi oleh syarat pembelian dan penjualan. Makin banyak diperoleh syarat kredit untuk membeli bahan dari pemasok maka lebih sedikit modal kerja yang ditanamkan dalam persediaan.
4. Perputaran persediaan
Makin cepat persediaan berputar maka makin kecil modal kerja yang diperlukan. Pengendalian persediaan yang efektif diperlukan untuk memelihara jumlah, jenis, dan kualitas barang yang sesuai dan mengatur investasi dalam persedian. Disamping itu biaya yang berhubungan dengan persediaan juga berkurang.
5. Perputaran piutang
Kebutuhan modal kerja juga dipengaruhi jangka waktu penagihan piutang. Apabila penagihan piutang dilakukan secara efektif maka tingkat perputaran piutang akan tinggi sehingga modal kerja tidak akan terikat dalam waktu yang lama dan dapat segera digunakan dalam siklus usaha perusahaan.
6. Siklus Usaha (Konjungtor)
Perusahaan akan berupaya untuk membeli barang terdahulu untuk memperoleh harga yang rendah dan memastikan adanya persediaan yang cukup, sehingga dalam masa tersebut diperlukan modal kerja yang besar.
7. Musim
Apabila perusahaan tidak dipengruhi musim, maka penjualan tiap bulan
rata-rata sama. Tetapi jika dipengaruhi musim, perusahaan memerlukan
sejumlah modal kerja yang maksimum untuk jangka relatif pendek.
Ada 2 macam musim :
a. Musim dalam hal produktif hanya dilakukan dalam bulan-bulan tertentu saja sedangkan dalam bulan lain tidak ada produksi atau sedikit produksinya.
b. Musim dalam hal penjualan, yaitu penjualan hanya dilakukan dalam bulan-bulan tertentu saja, sedangkan dalam bulan lain penjualan tidak begitu banyak.


d.   Sumber dan Penggunaan Modal Kerja
Menurut Sawir (2005:141) sumber-sumber modal kerja yang akan menambah modal kerja adalah :
1.    Adanya kenaikan sektor modal, baik yang berasal dari laba maupun penambahan modal saham.
2.    Ada pengurangan atau penurunan aktiva tetap karena adanya penjualan aktiva tetap maupun melalui proses depresiasi.
3.    Ada penambahan hutang jangka panjang, baik dalam bentuk obligasi atau hutang jangka panjang lainnya.
Sedangkan menurut Munawir (2004:120-123) sumber modal kerja suatu perusahaan dapat berasal dari :
1.    Hasil operasi perusahaan, adalah jumlah net income yang nampak dalam laporan perhitungan rugi laba ditambah dengan depresiasi dan amortisasi, jumlah ini menunjukkan jumlah modal kerja yang berasal dari hasil operasi perusahaan. Jadi jumlah modal kerja yang berasal dari hasil operasi perusahaan dapat dihitung dengan menganalisa laporan perhitungan rugi laba perusahaan tersebut. dengan adanya keuntungan atau laba dari usaha perusahaan, dan apabila laba tersebut tidak diambil oleh pemilik perusahaan maka laba tersebut akan menambah modal perusahaan yang bersangkutan.
2.    Keuntungan dari penjualan surat-surat berharga (investasi jangka pendek). Surat berharga yang dimiliki perusahaan untuk jangka pendek adalah salah satu elemen aktiva lancar yang segera dapat dijual dan akan menimbulkan keuntungan bagi perusahaan.
3.    Penjualan aktiva tidak lancar. Sumber lain yang dapat menambah modal kerja adalah hasil penjualan aktiva tetap, investasi jangka panjang dan aktiva tidak lancar lainnya yang tidak diperlukan lagi oleh perusahaan.
4.    Penjualan saham atau obligasi. Untuk menambah dana atau modal kerja yang dibutuhkan, perusahaan dapat pula mengadakan emisi saham baru atau meminta kepada para pemilik perusahaan untuk menambah modalnya, disamping itu perusahaan dapat juga mengeluarkan obligasi atau bentuk hutang jangka panjang lainnya guna memenuhi kebutuhan modal kerjanya.
Menurut Sawir (2005:142) penggunaan - penggunaan modal kerja yang mengakibatkan turunnya modal kerja adalah sebagai berikut :
1.    Berkurangnya modal sendiri karena kerugian, maupun pengambilan privasi oleh pemilik perusahaan.
2.    Pembayaran hutang-hutang jangka panjang.
3.    Adanya penambahan atau pembelian aktiva tetap.
Penggunaan - penggunaan aktiva lancar yang mengakibatkan turunnya modal kerja menurut Munawir (2004:125-127) adalah sebagai berikut :
1.    Pembayaran biaya atau ongkos-ongkos operasi perusahaan, meliputi pembayaran upah, gaji, pembelian bahan atau barang dagangan, supplies kantor dan pembayaran biaya-biaya lainnya. Pembayaran biaya operasi ini akan mengakibatkan terjadinya penjualan atau penghasilan perusahaan yang bersangkutan. Penggunaan aktiva lancar untuk pembayaran biaya operasi ini baru merupakan penggunaan modal kerja kalau jumlah biaya suatu periode lebih besar daripada jumlah penghasilannya (timbul kerugian).
2.    Kerugian-kerugian yang diderita oleh perusahaan karena adanya penjualan surat berharga atau efek, maupun kerugian yang insidentil lainnya. Penggunaan modal kerja karena kerugian yang di luar usaha pokok perusahaan harus dilaporkan tersendiri dalam laporan perubahan modal kerja. Hal ini dimaksudkan agar laporan itu lebih informatif bagi para pembacanya. Adapun kerugian baik yang rutin maupun yang insidentil akhirnya akan mengakibatkan berkurangnya modal perusahaan.
3.    Adanya pembentukan dana atau pemisahan aktiva lancar untuk tujuan-tujuan tertentu dalam jangka panjang, misalnya dana pelunasan obligasi, dana pensiun pegawai, dana ekspansi ataupun dana-dana lainnya. Adanya pembentukan dana ini berarti adanya perubahan bentuk aktiva dari aktiva lancar menjadi aktiva tetap.
4.    Adanya penambahan atau pembelian aktiva tetap, investasi jangka panjang atau aktiva tidak lancar lainnya yang mengakibatkan berkurangnya aktiva lancar atau timbulnya hutang lancar yang berakibat berkurangnya modal kerja.
5.    Pembayaran hutang-hutang jangka panjang yang meliputi hutang hipotik, hutang obligasi maupun bentuk hutang jangka panjang lainnya, serta penarikan atau pembelian kembali (untuk sementara maupun untuk seterusnya) saham perusahaan yang beredar, atau adanya penurunan hutang jangka panjang diimbangi berkurangnya aktiva lancar.
6.    Pengambilan uang atau barang dagangan oleh pemilik perusahaan untuk kepentingan pribadinya (prive) atau adanya pengambilan bagian keuntungan oleh pemilik dalam perusahaan perseorangan dan persekutuan atau adanya deviden dalam perseroan terbatas. Dengan kata lain adanya penurunan sektor modal yang diimbangi dengan berkurangnya aktiva lancar atau bertambahnya hutang lancar dalam jumlah yang sama.

E. KERANGKA PEMIKIRAN
Adapun kerangka pemikiran dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan data - data yang diperoleh dari PD. Mawarani Maumere berupa laporan keuangan perusahaan yang berupa laporan laba - rugi dan laporan neraca. Kemudian data - data tersebut dianalisis dengan menggunakan analisis rasio likuiditas dan analisis kebutuhan modal kerja. Dalam hal ini, analisis rasio likuiditas mencakup analisis current rasio, quick ratio dan cash ratio, sedangkan analisis penggunaan modal kerja mencakup analisis perputaran kas, analisis perputaran piutang dan analisis perputaran persediaan. Setelah diketahui likuiditas dan penggunaan modal kerjanya, maka akan dilakukan interprestasi hasil pengolahan data tersebut untuk mengetahui tingkat  likuiditas perusahaan dan pengaruhnya terhadap kebutuhan modal kerja bagi perusahaan.
Adapun alur kerangka pemikirannya dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 1.1
Kerangka pemikiran

·         NERACA
·         LAPORAN LABA – RUGI
·         LAPORAN PERUBAHAN MODAL


LIKUIDITAS

o  Current ratio
o  Quick Ratio
o  Cash Ratio

MODAL KERJA

o  Perputaran Kas
o  Perputaran Piutang
o  Perputaran Persediaan


F. HIPOTESIS
Berdasarkan latar belakang masalah dan tujuan penelitian dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
“Diduga Tingkat Likuiditas (Current Ratio,Quick Ratio dan Cash Ratio) Perusahaan dalam keadaan Ilikuid dan berpengaruh Terhadap Kebutuhan Modal Kerja pada PD. Mawarani Maumere”.


G. METODE PENELITIAN
Dalam melakukan penelitian ini metode yang dilakukan adalah penelitian deskriptif kuantitatif, yaitu penelitian yang dilakukan bersifat mendeskripsikan data yang telah terkumpul dengan obyek yang di teliti dikomparasikan dengan teori yang ada, menganalisis serta menyimpulkannya. Di dalam metode analisis yang digunakan masing - masing akan diuraikan di bawah ini :

1.    Jenis dan Sumber Data
a.    Jenis data
1). Data Kualitatif
Yaitu data yang  dinyatakan dalam bentuk sejarah singkat perusahaan dan bidang usaha perusahaan.
2). Data Kuantitatif
Data yang dikumpulkan penulis dalam bentuk angka - angka yang berhubungan dengan likuiditas perusahaan dan modal kerja pada PD. Mawarani Maumere dengan mengumpulkan data yakni laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi periode 2008 - 2012.     
b.    Sumber Data
1). Data Primer
Merupakan sumber data penelitian yang dikumpulkan secara langsung dari sumber utamanya baik dalam bentuk keterangan dan angka yang berhubungan dengan penelitian ini.
2). Data sekunder
Merupakan sumber data penelitian yang diperoleh secara tidak langsung melalui media perantara dan dokumentasi.





2.    Metode Pengumpulan Data
a. Studi Pustaka
Metode pengumpulan data dengan cara mempelajari literatur - literatur dan sumber tertulis lainnya yang berhubungan dengan masalah yang sedang diteliti dalam penulisan proposal penelitian ini.
b. Study Lapangan
1. Wawancara (Interview)
Wawancara yang digunakan adalah dengan mengadakan tanya jawab secara langsung dengan pihak - pihak yang berkompeten dalam bidang yang berhubungan dengan masalah yang dibahas.
2. Observasi
Penelitian ini juga dengan cara melihat secara langsung, mendengar, dan mengamati sendiri obyek yang diteliti sekaligus untuk penyesuaian data yang diperoleh melalui wawancara.
3. Dokumentasi
Yakni mempelajari dan menyalin catatan atau dokumen yang berhubungan dengan data yang diperlukan berupa laporan keuangan perusahaan yang meliputi gambaran umum perusahaan, jenis produk dan jumlah produksi, neraca dan laporan laba rugi.
3.    Metode Analisis Data
Dalam penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kuantitatif.
Metode analisis data yang dipakai adalah :
1.    Untuk mengetahui tingkat Likuiditas :
a). Quick Ratio =  Aktiva lancar
                     Utang Lancar
b).  Current Ratio = Aktiva Lancar – Persediaan
                                    Utang Lancar
c). Cash Ratio =   Kas + Bank
                   Utang Lancar


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar